WEST PAPUA LIBERATION ORGANIZATION

Manokwari - Papua Barat. Email: [email protected]; URL: www.wplo.org; www.oppb.org

Artikel Papua

TERBENTUKNYA PULAU PAPUA

Posted on February 13, 2011 at 3:04 PM

TERBENTUKNYA PULAU PAPUA (GEOLOGY PAPUA)


Ditulis Oleh: John Anari 


Pada mulanya pulau Papua merupakan dasar lautan Pasifik yang paling dalam dan juga merupakan lempeng Australia (lempeng Sahul) yang berada di bawah dasar lautan Pasifik tetapi akibat adanya pertemuan/tumbukan lempeng (tektonik lempeng) antara lempeng benua Australia (Lempeng Sahul) dan lempeng Samudera Pasifik sehingga terangkatnya lempeng Australia menjadi pulau di bagian Utara Australia. Pertemua/tubukkan lempeng ini sehingga menyebabkan terbentuknya gugusan pegunungan Tengah dan gugusan pegunungan di wilayah Kepala Burung. (Hamilton, 1979; Dow et al., 1988).

Papua merupakan lempeng Australia sehingga dapat ditemukan berbagai jenis bebatuan yang mirip antara Australia dan Papua.

 

Proses pengangkatan pulau Papua dari Dasar lautan Pasifik sehingga kini telah ditemukan berbagai kerang (bia) dan pasir laut di berbagai wilayah pegunungan Tengah dan Pegunungan Kepala Burung. Akibat pengangkatan ini akhirnya pulau Papua mulai terhubung dengan benua Australia sehingga mulai terjadi migrasi Hewan dan Manusia dari daratan Australia ke wilayah Papua sebelum terjadinya pencairan es di kutub akibat adanya pemanasan global.

Proses geologi Papua ini baru terjadi sekitar 60an jutaan tahun silam sehingga masih bisa ditemukan kerang di wilayah daratan Papua.

Menurut istilah geologi bahwa proses pertemuan lempeng disebut Convergent dan proses pemisahan lempeng disebut Divergent. Sehingga Papua merupakan proses Konvergen antara lempeng Samudera dan lempeng Benua seperti pada gambar di bawah ini.


 

Gambar. 1. Proses Konvergen antara lempeng Samudera Pasifik dan Benua Australia

 

Sumber: Download dari internet 



Gambar. 2. New Guinea dan Australia Plate

Sumber: Universitas Monash (http://sahultime.monash.edu.au/explore.html


Berdasarkan proses geologi tersebut sehingga 3 (tiga) ahli Geologi Wallace, Weber dan Lydekker berusaha menarik garis batas antara lempeng Sahul dan lempeng Sunda seperti terlihat pada gambar di bawah ini:

 


Gambar. 3. Pembatasan Lempeng Sahul dan Sunda oleh Lydekker

Sumber: Lydekker Line. Wikipedia English 


Dari ketiga pendapat ahli geologi tersebut, hanya Lydekker yang paling tepat membatasi perbatasan antara lempeng Sunda dan Sahul karena telah dibuktikan dengan kemiripan manusia, hewan, dan bebatuan yang ada di Papua mirip dengan Australia sedangkan wilayah Indonesia sangat berbeda dengan Papua.

Sehingga secara otomatis dan sudah sepantasnya pulau ini harus dinamai  Convergentland Island  (Pulau Tanah Konvergen).

 

Papua diciptakan oleh Sang Pencipta secara khusus dan tergolong masih mudah sehingga proses tektonik pun masih terjadi yang akan menyebabkan terjadinya gempa tektonik hingga saat ini.

 


Categories: None

Post a Comment

Oops!

Oops, you forgot something.

Oops!

The words you entered did not match the given text. Please try again.

Already a member? Sign In

8 Comments

Reply shelvy meilani
2:47 AM on September 21, 2014 
than's
Reply hesty
5:52 AM on June 21, 2012 
Thank"s yaH,,,
Artikelnya menambah pengetahuan, klu bs tlg tambahin berbagai hal yang menyangkut papua, budaya + adat istiadat+ keragaman suku,,
Reply matius
5:40 AM on October 7, 2011 
saya sangat setuju sekali itu,sebab ada seorang nenek yan sekarang masih hidup di pulau nusi yang berusia sudah lebih dari 100 thn persis di kabupaten nabire,saya sempat bertemu dengan beliau pada waktu itu karena membuhuhkan informasi tentang penjajahan di indonesia bagian timur,beliau sangat cakap dalam penetahuan akan pengalaman yang di alaminya tuk di ceritakan,salah satu dr bahan pembicaraanya adalah yang sudah tertera di atas.....oleh sebab itu benar sekali jika di daerah pegunungan tengah terdapat banyak kerang maupun karang-karang,saya sendiri berasal dr sana oleh sebab itu saya pun tau.begitu juga dengan persamaan antara benua australia dan pulau papua.
Reply jikar
9:11 PM on August 19, 2011 
nisman says...
Direktur Eksekutif Nasional LBH Rakyat Suma Mihardja berpendapat, pembangunan di berbagai bidang belum tersebar secara merata. Hal ini, menurut dia, karena hukum yang menjadi landasan pembangunan berparadigma liberal. "Hukum dengan paradigma liberal akan cenderung melindungi individu dan tidak berpihak kepada masyarakat miskin," kata Suma.

Bagi masyarakat miskin, lanjutnya, kemerdekaan tetap masih membawa penderitaan. "Padahal, tujuan negara seharusnya menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Tapi lihatlah saat ini, kesenjangan ada di mana-mana," ujar dia.

^_* sulo
Reply PC YALI
5:37 PM on April 13, 2011 
kita sebagai orang yang percaya keberadaan Tuhan,tidak pantas memikir sesuatu berdasarkan kemampuan pemikiran kita tetapi mari kita akui Kuasa Tuhan yang dulu terjadi,sedang terjadi dan akan terjadi.
Papua bisa dan bukan bagian dari australia,persamaan batuan dan hewan bisa saja demikian karena kuasa Tuhan.Papua dan Australia di jadikan oleh Tuhan.jarak Papua dan Australi adalah samudra pasifik,bukan selat atau teruzan
Reply Noenoen Andriatty Banks
4:58 PM on March 31, 2011 
It is interesting to learn how Papua was originally formed. I am very grateful to be given the opportunity to be a part of Papua struggle for her independence. Papua freedom is paramount!!! It has to be materialised soon!!! I wish all the best for Papua in the coming years to achieve what she wants to achieve....VIVA PAPUA!!!
Reply kurios graciano
11:38 AM on March 29, 2011 
saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh wallace,weber n lydekker mengenai proses terbentuknya Papua yang diakibatkan oleh proses tektonik dan hal nyata bukti kemiripan Papua dan Australis bukan hanya dari batuannya saja tapi manusia dan juga hewannya....Nama Papua Baru Convergenland Island.
Reply nisman
1:04 PM on March 20, 2011 
Direktur Eksekutif Nasional LBH Rakyat Suma Mihardja berpendapat, pembangunan di berbagai bidang belum tersebar secara merata. Hal ini, menurut dia, karena hukum yang menjadi landasan pembangunan berparadigma liberal. "Hukum dengan paradigma liberal akan cenderung melindungi individu dan tidak berpihak kepada masyarakat miskin," kata Suma.

Bagi masyarakat miskin, lanjutnya, kemerdekaan tetap masih membawa penderitaan. "Padahal, tujuan negara seharusnya menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. Tapi lihatlah saat ini, kesenjangan ada di mana-mana," ujar dia.